Sabtu, September 13, 2008

Neno Warisman: Manajemen Sholat pada Anak (Bag. 3)

Pengalaman Bunda Sendiri Gimana?

Masing masing anak kan berbeda ya. Adakan anak yang suka membaca dia
suka berpikir, ketika menunda sholat dia beralasan "Sholat itu harus
dikerjakan dengan ikhlas, kalau hanya ingin dibilang sholat
percuma". Kita biarkan dulu pendapat dia seperti itu. Yang lain
misalnya suka cari perhatian, sholatnya cepat sekali. Tiba tiba dia
bilang "Aku sudah sholat." Kita biarkan dulu. Nah ada juga anak yang
lambat sekali kalau disuruh sholat. Misalnya sholat isya lama dia
nggak sholat. Tapi pas mau tidur dia bilang "Aku ngantuk sekali,
tapi aku belum sholat." Sambil merengek. Ada juga yang tetep main
rapi ketika waktu sholat dia berhenti dan sholat.



Berikan waktu pada anak anak untuk memproses dirinya. Anak anak saya
juga seperti anak yang lain. Kadang mereka mudah sekali, kadang
susah sekali. Ya biasanya di antara. dua kutub itulah. Tapi saya
menikmati proses itu. Ada kalanya mereka tiba tiba bilang, "Bunda
aku kemaren sholat lima waktu Iho, waktu Bunda pergi. Sekarang aku
mau sholat lima waktu lagi." Wah kalau mendapati itu, kita apresiasi
yang sangat tinggi. Kita bisa kasih hadiah, tapi usahakan jangan
benda.

Hal yang harus dilakukan orangtua adalah membuat varian yang banyak
sekali, agar perintah sholat itu tidak monoton. Itu yang paling
dibenci anak anak. Jadi kata. yang sama, anak benci banget. Banyak
cara untuk meminta anak sholat, untuk memberikan motivasi.

Suatu hari misalnya kita ketawa, maghrib sudah lewat kita, pandang
matanya. Anak-anak biasanya suka salah tingkah kalau dipandangi
begitu. Baru kita. berikan makna di belakang itu, kita bilang, "Di
surga itu katanya ada anak anak yang Allah sayang sekali sama
mereka. Ternyata dulunya anak-anak itu mengerjakan sholat tanpa
diminta."

Orang tua kebanyakan pakai target. Target¬target contreng, jadi
keimanan dicontreng. Misalnya anaknya tiga, didata anaknya.
Ditanyain satu per satu. Kalau begitu menurut saya tidak ada
kenikmatan sholat di sana. Satu hal lagi yang saya coba jalankan,
berikan kesempatan anak melihat saat kita dan air mata kita saat
kita sholat. Ada saatnya kita perlu "show up" di hadapan anak anak.
Ketika sholat anak¬anak tahu kita. menangis, biasanya anak akan
bertanya kenapa ayah atau ibunya menangis ketika sholat.'Kita
jelaskan bahwa kita menangis karena bahagia, melalui sholat itu kita
bisa sujud pada Allah. Setelah itu boleh jadi dia akan main lagi,
tapi itu membekas pada anak.

Lalu di depan anak, berdoalah untuk dia. Ciptakan suasana yang
sangat nyaman ketika sholat berjama'ah di rumah. Itu biasanya
dilakukan oleh ibu di rumah. Kalau saya biasanya habis shubuh adalah
saat yang paling disukai anak anak saya. Biasanya main kuis atau
shalawat bersama. jadi dempetkan waktu sholat itu dengan kegiatan
yang menarik. jadi image yang terbangun adalah waktu sholat itu
adalah waktu yang menyenangkan.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai orang tua ketika menghadapi
keengganan anak melakukan sholat?

Sebenarnya kalau orang tua mau jujur, mereka juga mengalami saat di
mana ada perasaan malas melakukan sholat. Tapi boleh Jadi bagi orang
tua yang jaim (jaga image ;red) akan serta merta menjawab tidak
pernah merasa malas ketika sang anak bertanya apakah orang tuanya
pernah merasa malas sholat. Padahal boleh jadi kita sebagai orang
tua baru mulai sholat pada usia 25 tahun.

***

Pemilik nama panjang Titi Widoretno Warisman ini memang sudah sejak
lama peduli dengan dunia pendidikan anak. Salah satu kepeduliannya
diwujudkan melalui Yayasan Kita dan Buah Hati yang dirintisnya
bersama pakar dunia pendidikan anak Elly Risman Musa, yang juga
pernah Auladi wawancarai pada edisi sebelum. ini, pada tahun 1992.
Tak berlebihan kiranya kalau belum lama ini salah satu radio swasta
memilihnya sebagai Ibu Teladan.

Tak berpuas diri untuk mewujudkan generasi yang lebih baik, belum
lama ini Neno bersama Kak Seto (Seto Mulyadi) membentuk Neno‑Seto
Foundation. Yang menarik salah satu concern yang digeluti lembaga,
ini adalah soal peran keayahan. Hal yang boleh jadi belum seumum
peran keibuan

Apa sih yang menjadi impian Neno‑Seto Foundation? Soal lembaga yang
didirikan bersama Kak Seto?

Seto‑Neno Foundation punya keinginan suatu saat menjadi lembaga yang
dipercaya untuk memberikan edukasi, inspirasi bagi berkembangnya
anak‑anak. Keberbakatannya, kesempatan dia. untuk tidak hanya
bersekolah formal saja. Yang terpenting adalah pendidikan yang
berbasis karakter. Salah satu hal yang ingin Neno‑Seto Foundation
wujudkan itu adalah terbentuknya 20 karakter mulia, terurtama pada
anak anak. Kan ada tuh 20 karakter internasional. Hal yang utama
kita ingin anak, anak dari lingkungan miskin memiliki kesempatan
lebih baik. Kedua adalah menggairahkan peran keayahan.

Kalau peran keibuan kan sudah dilakukan oleh banyak orang. Ternyata
dengan memperbaiki kualitas peran keayahan, kualitas anak dan
generasi secara. otomatis akan terperbaiki. Saya pernah mewawancarai
100 anak muslim terpandai. Ternyata yang dapat rekomendasi baik itu
adalah anak‑anak yang memiliki ayah dalam hidup mereka. Bukan hanya
sekedar pintar tapi juga cerdas. Anak-anak yang pintar saja, lahir
dari kondisi 'kosong' ayah. Berayah tapi tiada ayah. Hal itu berat,
kita lihat dari mata mereka. Pilihan-pilihan mereka, itu terlihat
getir. Itu karena mereka tidak pernah dipeluk ayah mereka, atau
ditinju sayang, ketika sudah mulai baligh mereka sudah dianggap
besar. Ternyata remaja‑remaja yang hanya pintar itu mereka nggak
punya ayah yang bisa menjadi teman bermain mereka. Kalau begitu
mereka nggak bisa menjadi ayah yang baik dengan dibesarkan dengan
cara begitu.

Ayah yang human, yang kaya, bisa manjat pohon, bisa ngajarin anaknya
bercocok tanam, nanem pupuk, bisa nyebrangin sungai. Yang mengajak
merusakkan satu radio rusak sama­-sama. Ayah-ayah yang begitu akan
menjadikan anak-anak laki‑laki mereka sangat kaya. Nah itu yang
menjadi concern Seto‑Neno Foundation, menyemangati dan menyegarkan
kembali para ayah untuk mengambil peran pendidikan. Kalau ibunya
tentu saja kita juga mengadakan program untuk para ibu, terutama
para ibu dari ekonomi yang sangat rentan.

Impian dan harapan Bunda saat ini?

Saya ingin ada suatu rujukan. Kalau dalam institusi formal negara
ini saya ingin ada kementrian anak dan remaja. Karena selama ini
anak hanya dititip‑titipkan, di departemen agama, departemen
pendidikan. Ternyata sama departemen pendidikan nasional, anak hanya
diurus sekolah formalnya saja, hatinya tidak. Dan di wilayah tata
kota, tidak ada yang ramah pada anak‑anak. Anak‑anak menjadi
komunitas yang terdzolimi. Untuk orang cacat mungkin sudah mulai,
tapi untuk anak belum ada.

Di jerman nggak boleh ada mainan pistol~ pistolan. Karena anak
dilindungi dari ide kekerasan. Itu keputusan besar sebuah negara.
Kira kan nggak, segala macam ada. Terutama yang menjadi concern saya
saat ini satu di antara lima anak terjangkit narkoba. Dan diprediksi
tak lama lagi HIV yang akan menyerang remaja. Komik‑komik yang ada
saat ini pun menyajikan pornografi. Bener‑bener hak anak dilanggar.

Nah peran kementrian anak dan remaja itu bertindak bukan kalau anak
sudah teraniaya. Ke komnas kalau sudah jadi korban. Kalau ini nggak,
ini hak dan kepentingan anak, lahir batin di dalam rumah dan
lingkungannya. Kita harus punya strategi peradaban baru untuk
generasi ke depan dengan memerikan hak mereka. Di sekolah bagaimana,
di rumah bagaimana. Sekarang nggak ada. Semua hak anak ditabrak,
terutama oleh tayangan di televisi. Karena kita nggak punya
kementrian Anak dan Remaja yang mengatur itu. Kita nggak tahu ini
urusan siapa?.

sumber:
http://www.cybermq.com

Tidak ada komentar: